Kamis, 04 Mei 2017

"Bicara Sembarangan, Dirut BEI Marahi Anies Baswedan..."



Pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno (Anies-Sandi) memastikan akan melepas kepemilikan saham Pemprov DKI Jakarta di PT Delta Djakarta Tbk (DLTA). Sandiaga Uno bahkan punya rencana untuk menunjuk konsultan berpengalaman di bidang investasi untuk menghitung nilai saham milik Pemprov DKI yang akan dilepas.

Namun, cara Anies-Sandi yang terlalu banyak berbicara di depan media mengenai rencana pelepasan saham milik Pemprov DKI di DLTA dikritik oleh Dirut Bursa Efek Indonesia (BEI) Tito Sulistio. Apa alasannya?


"Tolong bilang ke Sandi (Sandiaga Uno) kalau mau jual jangan bilang-bilang karena itu mempengaruhi pasar. Bursa mengatakan bahwa pemegang saham mayoritas laporan secara resmi jangan cuman ngomong di koran dan menimbulkan pertanyaan di pasar (saham)," tegas Tito saat ditemui di kantornya, Gedung BEI, Kawasan SCBD, Jakarta, Rabu (3/5).
Tito mengatakan, bila Anies-Sandi ingin melepas saham DLTA sebaiknya mengikuti peraturan yang berlaku di Pasar Modal. Saat ini, Pemprov DKI Jakarta memang punya 26,25 persen saham di DLTA. Rinciannya, milik Pemprov DKI Jakarta adalah 23,34 persen dan BP IPM Jaya sebesar 2,91 persen. BP IPM Jaya juga masih berada di bawah naungan Pemprov DKI Jakarta.






Ilustrasi Bir. (Foto: Thinkstock)


DLTA adalah perusahaan pemegang hak merek Anker Bir, Carlsberg, San Miguel, dan Stout.
"Jadi dia harus kirim surat mau jual, keterbukaan (informasi ke BEI), lalu diumumkan secara resmi. Tapi jangan sudah diumumkan tiba-tiba enggak jadi. Besar atau kecilnya perusahaan tolong ikuti aturan pasar modal. Jadi harus secara formal," tegasnya.

Tito menambahkan, meski pada umumnya Pasar Modal tidak terpengaruhi atas pernyataan yang dikeluarkan pasangan Anies-Sandi, tapi para pemegang saham DLTA jelas akan bertanya-tanya dan menerawang nasib perusahaan ke depan. Yang lebih bahaya lagi adalah bila Anies-Sandi batal melepas saham DLTA, maka akan menimbulkan gejolak pasar luar biasa, khususnya bagi saham DLTA. 

"Karena pada prinsipnya siapa pun yang punya kuasa atau pemegang saham utama itu tidak boleh membuat suatu guncangan yang mempengaruhi pasar (saham)," jelasnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar