Jumat, 22 September 2017

Perceraian Meningkat di Iran karena Perilaku Seks Menyimpang


Perceraian Meningkat di Iran karena Perilaku Seks Menyimpang


Perempuan Iran (Foto: Reuters / Morteza Nikoubazl)


Perceraian di Iran meningkat dua kali lipat dalam satu dekade terakhir, membuat pemerintah Teheran khawatir. Lebih khawatir lagi karena penyebab perceraian terbanyak di negara ini adalah karena kekerasan dan penyimpangan seksual suami terhadap istri.
Dikutip dari Reuters, tahun 2015 saja ada 164 ribu kasus perceraian. Hal ini mengancam anjloknya angka kelahiran di negara mayoritas Syiah itu.
Wanita-wanita Iran yang diwawancara Reuters mengatakan, mereka bercerai karena suami mereka "galak" di ranjang. Salah satunya adalah wanita bernama Sabah, dia mengatakan suaminya kerap menyundut tubuhnya dengan rokok ketika mereka berhubungan seks.
Butuh waktu 10 tahun bagi Sabah untuk menceraikan suaminya karena perceraian di tempatnya tinggal, Khosistan, sangat tabu.
"Masyarakat yang ultra-konseratif di Khosistan menganggap perceraian memalukan," kata dia. Setelah menuntut mas kawin yang belum dibayarkan, akhirnya suaminya setuju menceraikan wanita 37 tahun itu.


Pasangan Iran (Foto: REUTERS/Morteza Nikoubazl)


Wanita lainnya, Sarah, mengatakan suaminya mencontoh adegan seks penuh kekerasan di film "Fifty Shades of Grey" ketika mereka berhubungan intim. Suami mereka mendapatkan kenikmatan dari menyakiti Sabah, kelainan yang disebut sadomasokisme.
"Dia terobsesi dengan film 'Fifty Shades of Grey' dan mencoba meniru metode seks dengan menggunakan borgol dan topeng," kata Sarah, 29, yang menikahi suaminya di Teheran, lima tahun lalu.
Menurut juru bicara Presiden Hassan Rouhani, Shahindokht Molaverdi, yang dikutip dari kantor berita ISNA, "kepuasan seksual adalah alasan utama perceraian di Iran."
Pemerintah, kata dia, bahkan telah membuat klinik kesehatan keluarga di seluruh negeri untuk membimbing kehidupan seksual pasangan suami-istri di Iran, terutama mereka yang akan bercerai.


Mehrdad Darvishpour, ahli sosiologi keturunan Iran di Malardalen University, Swedia, mengatakan pendidikan seks harus diajarkan secara terbuka di sekolah-sekolah negara itu. Selama ini, pria Iran belajar seks dari film porno.
"Satu-satunya sumber informasi pria adalah film porno, yang menggambarkan wanita sebagai alat seksual. Mereka mengharapkan hal yang sama, dengan memperlakukan istri sebagai budak seks," ujar Darvishpour.
Hal ini dibenarkan oleh Sarah yang mengaku tidak tahu perilaku seksual menyimpang suaminya sebelum menikah.
"Seringkali di malam hari dia menonton film porno lalu menirunya," kata Sarah kepada Reuters melalui telepon.


Perempuan Iran (Foto: Reuters)


Iran memang menerapkan sensor ketat internet, memblokir ribuan situs yang dianggap memajang pornografi. Namun menurut Reuters, video-video porno bisa dengan mudah dibeli di pasar-pasar.
Giti Pourfazel, pengacara HAM di Teheran selama 25 tahun sampai 2016, memperkirakan setengah dari jumlah perceraian di Iran akibat masalah seksual. Banyak kliennya yang wanita mengeluhkan kekerasan suaminya di ranjang. Para suami ini marah ketika istrinya menolak memenuhi keinginan mereka.
Tidak jarang wanita Iran yang telah bercerai memutuskan pergi dari Iran. Salah satunya adalah wanita Iran yang diwawancara Reuters tapi tidak ingin menyebut namanya. Dia memutuskan pindah ke London, Inggris, setelah berhasil menceraikan suaminya.
"Suami saya seperti binatang ketika berhubungan seks. Bayi saya meninggal dalam kandungan karena perilakunya. Saya dianggap tidak memenuhi kebutuhan seksualnya," ujar wanita tersebut.
Perilaku suaminya membuat hasrat seksual wanita ini menjadi hilang. Di London, dia menikahi seorang pria idamannya dan kehidupan seksnya kini jauh lebih baik.
"Sekarang di usia 50 tahun, saya menyadari saya punya hasrat seksual dan saya punya hubungan asmara yang indah dengan seorang pria di Inggris," lanjut dia. 
Sumber:Kumparan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar