Jumat, 15 September 2017

Polisi Selidiki Kasus Kematian Siswa yang Dipaksa Berduel oleh Seniornya


Maria Agnes memegang foto anaknya Hilarius Christian Event Raharjo (15), siswa kelas X SMA Budi Mulya yang tewas setelah dipaksa berduel dalam ajang bom-boman.


BOGOR,Kepolisian Sektor Bogor Utara mendatangi kediaman almarhum Hilarius Christian Event Raharjo (15) di Jalan Cipaku, Gang Melati, RT 02 RW 08, Kecamatan Bogor Selatan, Kota Bogor.

Hilarius merupakan siswa kelas X SMA Budi Mulia yang tewas setelah dipaksa berduel satu lawan satu dengan siswa dari SMA Mardi Yuana, atau disebut dengan istilah "bom-boman".

Kedatangan polisi ke sana untuk meminta informasi kepada pihak keluarga terkait kasus yang merenggut nyawa Hilarius.

Kepala Polsek Bogor Utara Komisaris Polisi Wawan Wahyudin mengatakan, kepolisian sebenarnya sudah mendapat laporan tentang kasus itu satu tahun yang lalu. Wawan menyebut, kasus itu terjadi pada Januari 2016. Namun, kasus tersebut tidak dilanjutkan dengan alasan pihak keluarga korban tidak ingin jenazah anaknya diotopsi.

"Karena pihak korban menolak otopsi, akhirnya kasusnya diselesaikan secara kekeluargaan," kata Wawan, Jumat (15/9/2017).

Namun, kasus ini kembali mencuat setelah ibu korban memposting tulisan mengenai peristiwa tersebut hingga menjadi viral di media sosial. Setelah diberi penjelasan, lanjutnya, pihak keluarga korban akhirnya bersedia untuk otopsi terhadap jenazah anaknya.

"Tadi, orangtuanya sudah mau (diotopsi). Ya sudah. Dulu kan kendalanya itu," ucapnya.

Ia menyebut, polisi akan memanggil semua pihak yang mengetahui maupun yang menyaksikan kejadian itu untuk menjalani pemeriksaan.

"Belum ada tersangka, kita masih periksa saksi-saksi," pungkasnya.

Sebelumnya, orangtua korban, Maria Agnes mencurahkan hati melalui media sosial Facebook terkiat kematian putranya akibat dipaksa berduel ala gladiator di lapangan basket.

Putranya, Hilarius dijebak dan dipaksa berkelahi dengan siswa sekolah lain oleh kakak kelas dan alumninya. Hilarius meninggal akibat pembuluh darahnya pecah karena terus dihajar tanpa ampun.


Maria Agnes memegang foto anaknya Hilarius Christian Event Raharjo (15), siswa kelas X SMA Budi Mulya yang tewas setelah dipaksa berduel dalam ajang bom-boman.

BOGOR, Sudah setahun lebih, Maria Agnes memendam kesedihan setelah ditinggal pergi anaknya, Hilarius Christian Event Raharjo (15) selama-lamanya.

Suasana duka pun masih sangat kental terasa di kediaman almarhum, Jalan Cipaku, Gang Melati, RT 02 RW 08, Kecamatan Bogor Selatan,Kota Bogor.

Foto-foto Hilarius semasa hidupnya pun terpampang di beberapa bagian dinding rumah. Sesekali, Maria hanya bisa menangis jika teringat tentang kematian anaknya.

Maria bersama suaminya, Vanansius Raharjo, hanya ingin keadilan di balik kasus kematian anak sulungnya itu.

Hilarius yang saat itu merupakan siswa kelas X SMA Budi Mulia tewas setelah terlibat pertarungan ala gladiator satu lawan satu dengan siswa dari sekolah SMA Mardi Yuana.

Ayah korban, Vanansius menceritakan, Hilarius tewas setelah mengalami luka memar di bagian wajah serta pecahnya pembuluh darah di bagian kepala. Peristiwa itu terjadi pada tanggal 29 Januari 2016 di sebuah lapangan yang terletak di SMA Negeri 7 Kota Bogor.

"Anak saya waktu itu diajak untuk melihat pertandingn basket. Tapi ternyata, dia sudah disiapin oleh senior kakak kelasnya untuk bertarung dengan murid dari sekolah SMA Mardi Yuana," ucap Vanansius, saat ditemui di kediamannya, Kamis (14/9/2017).

Vanansius mengatakan, pertarungan ala gladiator atau dikenal dengan istilah "bom-boman" itu dilakukan menjelang pertandingan final bola basket antara SMA Budi Mulia dengan SMA Mardi Yuana.

Kata Vanansius, tradisi "bom-boman" itu selalu dilakukan jika kedua sekolah tersebut bertemu dalam ajang kompetisi bola basket yang digelar setiap tahunnya. Dirinya menyebut, ritual "bom-boman" tersebut melibatkan para senior dan alumni dari kedua sekolah itu.

Korbannya adalah junior mereka yang masih duduk di kelas satu SMA. Para junior ini, lanjut Vanansius, dipaksa diadu fisiknya dengan berduel tangan kosong oleh para seniornya. Lawannya adalah murid dari sekolah lain yang sebelumnya juga sudah disiapkan.

"Kakak kelas ini dikoordinir sama alumni sekolah. Jegernya atau promotornya, ya alumni itu, yang mengelola kelas tiga. Mereka mencari anak-anak yang baru masuk untuk dipaksa berduel," kata Vanansius.

Ia menambahkan, tradisi "bom-boman" antar kedua sekolah itu sudah lama berlangsung dan dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sebelum berduel, mereka mencari lapangan yang sepi. Hanya komunitas mereka saja yang bisa melihat pertarungan ala gladiator itu secara langsung.

"Saya dapat informasi itu dari semua orang yang saat itu ada di lokasi kejadian, termasuk dari teman anak saya. Acara (bom-boman, red) ini emang udah lama, tapi yang sampai tewas ya baru ini, anak saya. Setelah kejadian ini, baru pada tahu ternyata ada ajang seperti itu. Pihak sekolah dan guru juga tidak tahu awalnya," ungkapnya.

Keadilan ditegakkan

Sementara itu, Maria meminta agar keadilan bisa ditegakkan. Sebab, kata dia, meski pelaku utama yang menewaskan anaknya sudah dikeluarkan dari sekolah, namun hal itu belum dirasa cukup untuk memberikan efek jera.

Selain itu, alumni yang menjadi promotor "bom-boman" juga tidak diketahui keberadaannya. Beberapa siswa yang ikut terlibat pun hanya dikenai sanksi skors dari pihak sekolah.

"Ada 50 orang lebih yang menonton anak saya disiksa sampai sakratul maut. Divideokan oleh siswa-siswa yang menyaksikan," tutur Maria.

Selain itu, ia bersama suami juga menolak ketika jasad Hilarius harus diotopsi. Bagi dia, hatinya akan lebih tersiksa lagi jika harus melihat jenazah putranya diotopsi.

"Dan harus disiksa lagi dengan otopsi. Bukankah saya berhak untuk menolak otopsi. Tapi saya inginkan supaya semua pelakunya dihukum," kata Maria.

Putranya, sambung Maria, sempat ingin mundur dan tidak mau berkelahi namun pinggangnya ditendang. Hilarius, kata dia, berusaha bangkit dan mengalami kejang-kejang tapi terus dipukul kepalanya hingga meninggal.

"Hila meninggal di TKP. Di lapangan SMU Negeri 7 Indrapasta Bogor. (Pukulan di kepala) atas suruhan promotor dari SMA Mardi Yuana. Dia bilang, 'pukul Hila yang belum KO'," ujar Maria.

Dia mengaku juga sudah memiliki bukti-bukti surat pernyataan dari para siswa yang ikut terlibat dan menyaksikan anaknya tewas. Mereka mengakui bahwa Hilarius tewas karena dipukul dalam duel tersebut.

Dengan bukti yang dimilikinya, ia dan suami berharap bisa mendapat keadilan. Sekarang, baik Maria maupun Vanansius hanya ingin peristiwa seperti itu tidak terjadi lagi. Mereka berharap kasus yang merenggut nyawa Hilarius bisa menjadi pembelajaran oleh semua pihak.

Sebelumnya, Maria sempat mencurahkan perasaan sedihnya lewat akun Facebook pribadinya, Maria Agnes. Dalam postingan yang ditulisnya pada tanggal 12 September 2017, Maria memohon kepada Presiden Joko Widodo dapat menegakkan keadilan atas kasus yang merenggut nyawa anaknya.
Sumber:Kompas.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar